Data Covid-19 Mutlak Terintegrasi Di Jawa Barat

Dipublikasikan oleh RFM pada

DISKOMINFO INDRAMAYU – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Virus Corona Desease (Covid-19) Provinsi Jawa Barat menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama Satgas Covid-19 Kabupaten Indramayu dan Satgas Covid-19 Kabupaten Subang. Tema utama dalam FGD itu terkait dengan penginputan data Covid-19 dalam Aplikasi Pikobar, di Ruang Ki Tinggal Setda Indramayu, Selasa (17/11/2020).

Anggota Divisi Teknologi Informasi (IT) Satgas Covid-19 Provinsi Jawa Barat Rizi Advista menjelaskan, tujuan FGD kali ini guna meluruskan informasi laporan data Covid-19, agar terintegrasi antara data di provinsi hingga tingkat kabupaten/kota, sehingga tidak ada kesimpangsiuran data antara Pikobar Jawa Barat dan Pikobar yang ada di kabupaten/kota.

“Kami ingin mensinkronkan data Covid-19 di provinsi dan di kabupaten/kota, mengingat semakin hari semakin tinggi perbedaan datanya. FGD dibagi dua sesi, sehingga apa saja yang menjadi hambatan yang mendasari perbedaan datanya dapat diselesaikan,”jelasnya.

Dikatakan Rizi, dalam pengolahan data Covid-19 berbasis digital ini sebenarnya untuk mempermudahkan sejumlah Satgas Penanganan Covid-19 di kabupaten/kota di Jawa barat dalam pengelolaan data Covid-19 agar memiliki data yang sama, sehingga kemudian bisa diinformasikan kepada masyarakat secara faktual.

Terkait hambatan penginputan data Covid-19 di aplikasi Pikobar, Kasie P2P Dinas Kesehatan Indramayu, Dede, mengungkapkan, munculnya data Covid-19 di Indramayu pertama melalui penemuan pasif dan aktif. Artinya penemuan pasif ini terjadinya orang yang pernah melakukan perjalanan luar daerah dilaporkan ke organisasi masyarakat seperti RT/RW untuk kemudian ditindaklanjuti di Satgas Penanganan Covid-19 tingkat kecamatan dan kabupaten.

Sementara untuk penemuan aktif maka pihak Dinkes Indramayu, melakukannya dengan swab PCR secara masal terhadap tempat kelompok-kelompok beresiko terpapar Covid-19 seperti tempat keramaian dan lainnya. Sehingga seteleh dilakukan Swab PCR menghasilkan data Covid-19 yang kemudian diolah melalui Puskesmas dan Dinkes Indramayu secara manual.

“Sebenarnya kami dari awal hingga pertengahan dengan adanya Sipikoayu harapan kami menjadi data yang valid. Namun pada saat itu Diskominfo Indramayu membuat website Covid-19.indramayukab.go.id sehingga keberadaan aplikasi Sipikoayu ini hanya berlaku internal di dinas kami,” ungkapnya.

Namun kata Dede, keberadaan aplikasi Pikobar dan Allrecord milik pusat Litbang Kemenkes RI justru menghambat proses penginputan data Covid-19, yang memang diakibatkan minimnya tenaga operator serta pengelolaan sistem aplikasi yang berbeda untuk bisa dilakukan penginputan data.

Hal sama juga dirasakan Mansura Kasi PTM Keswa dari Dinas Kesehatan Kabupaten Subang yang menyebutkan, permasalahan pasti dialami oleh semua Satgas Penanganan Covid-19 kabupaten/kota di Jawa Barat, termasuk Kabupaten Subang terdapat masih minimnya prsonel penanganan dan pengolahan data Covid-19 yang di akibat kesibukaan ditengah pandemi dalam menjalankan program untuk penanganan Covid-19 di masyarakat.

“Pada awal muncul Covid-19 kita di Dinkes Kabupaten subang sejumlah personel menginput data termasuk di Pikobar. Namun lama berjalannya waktu mulai tersendat-sendat karena kami harus menginput data di website lokal. Sehingga kurangnya tenaga operator menimbulkan data yang berbeda di Pikobar dan di website lokal pemerintah daerah,’’katanya.

Dengan keterbatasan yang hingga kini dialami, perlu adanya terobosan dari Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Barat untuk mencipatakan sebuah sistem penginputan data Covid-19 yang terintegrasi ke semua aplikasi atau website.
“Disituasi saat pandemu ini memang perlu kerja ekstra dalam penanganan dan pengelolaan data Covid-19. Tetapi kami mengharapkan ada satu sistem penginputan data sekali saja bisa tersambung ke semua website baik di provinsi hingga pusat,”harapannya.

Melihat kendala yang dialami Dinas Kesehatan Indramayu dan Dinas Kesehatan Kabupaten Subang tentu sangat dimaklumi oleh Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Barat. “Dengan kondisi demikian kami tidak mempermasalahkan dan kami berharap walau penginputan data Covid-19 masih dilakukan secara manual, diharapkan bisa dikirim ke kami agar kemudian kami melakukan penginputan data untuk di Pikobar sembari menunggu sistem penginputan yang bisa tersambung dan terintegrasi di waktu yang bersamaan,” ujarnya. (M.Toyib/Diskominfo Indramayu)