Menjaga Ketahanan Pangan Melalui Tradisi Adat Ngarot | INDRAMAYUKAB.GO.ID
Selasa , 19 Maret 2019

Menjaga Ketahanan Pangan Melalui Tradisi Adat Ngarot

Ribuan masyarakat tumpah ruah di halaman Balai Desa Lelea Kecamatan Lelea untuk menyaksikan prosesi Adat Ngarot yang dilaksanakan oleh Pemerintah Desa Lelea, Rabu (19/12/2018). Kemacetan ini mulai terasa sejak dari Jl. By Pass Pantura di Desa Larangan yang merupakan akses menuju Desa Lelea. Di sepanjang kanan-kiri jalan, ratusan pedagang berjajar menjajakan dagangannya yang membuat kemacetan bertambah parah.

Tradisi Adat Ngarot merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat, berkah dan rejeki kepada petani. Tradisi Ngarot menjadi salah satu ikon budaya di Kabupaten Indramayu, karena hanya Kota Mangga ini yang memilikinya.

Dalam masyarakat berkultur agraris seperti Desa Lelea, Adat Ngarot merupakan suatu tradisi untuk memulai masa bercocok tanam di sawah yang dilakukan sejak abad 16 yang lalu sampai sekarang di musim penghujan (rendeng). Atas konsistensinya dalam merawat tradisi budaya ini, pada tahun 2015, Unesco menetapkan Adat Ngarot sebagai bagian dari warisan budaya tak benda (intengible).

Prosesi Adat Ngarot Desa Lelea Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu dimulai dengan pawai puluhan gadis yang bermahkotakan bunga di kepalanya. Dipimpin oleh sang Kepala Desa Lelea, gadis Ngarot mengelilingi batas-batas desa diiringi para jajaka desa di belakangnya. Setelah menyusuri batas-batas desa, barulah gadis dan jajaka desa itu berkumpul di balai desa untuk mendengarkan wejangan atau petuah dari tetua desa.

Di akhir prosesi, diserahkan sarana panca usaha tani seperti bibit padi, kendi berisi air, cangkul dan parang, dan lain-lain secara simbolik, kepada perwakilan gadis dan jajaka Ngarot. Penyerahan sarana panca usaha tani ini menjadi penanda dimulainya masa menggarap sawah di musim rendeng yang dilakukan secara massal oleh masyarakat Desa Lelea, untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka selama satu tahun ke depan. Acara ditutup dengan tarian longser.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Indramayu, Drs. H. Carsim mengatakan, Tradisi Adat Ngarot merupakan rangkaian yang panjang dari usaha manusia untuk mengekspresikan rasa syukurnya terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa atas melimpahnya panen padi di tahun sebelumnya. Rangkaian itu yakni didahului oleh sedekah bumi, ngunjung, durugan (mencangkul), lantas Ngarot yang artinya jeda untuk minum.

“Masyarakat Desa Lelea melakukan Tradisi Adat Ngarot, sebagai tanda dimulainya masa menanam padi secara serentak,” katanya.

Carsim menegaskan, pihaknya akan terus merawat, memelihara, dan meneruskan tradisi Adat Ngarot ini sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia. Menurutnya banyak hal yang positif dari tradisi ini, di antaranya mengedukasi pemuda-pemudi untuk bercocok tanam di sawah sebagai bekal kehidupan mereka. “Saya kira ini berhubungan dengan ketahanan dan kedaulatan pangan juga. Karena di sisni pemuda dibekali bibit padi dan cangkul sebagai sebuah simbol agar mereka rajin bekerja di sawah untuk memenuhi kebutuhannya, juga mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita,” tandasnya.

Tradisi Adat Ngarot memang identik dengan gadis bermahkotakan bunga. Daya tariknya ada di situ. Konon mitosnya, kalau gadis-gadis yang ikut pawai itu sudah tidak suci lagi, maka bunga yang ada di kepalanya akan layu.

Mitos ini masih banyak dipercayai oleh masyarakat setempat. “Kalau mereka sudah tidak suci lagi, gadis yang ikut Ngarot akan ketahuan dari bunganya yang layu. Walahu alam,” kata Rita, warga Lelea. (ds/diskominfoIndramayu)